Jumat, 08 Juli 2011

TANAH PERIUK

Pada zaman dahulu kala sebuah kejaraan mataram. Sang raja yang mempunyai istri banyak juga akan mempunyau anak banyak. Anak-anak dari salah satu istri sang raja merasa kalau mereka sangat di asingkan dan tak di anggap. Mereka merasa kalau mereka itu tak punya tempat dalam kerajaan itu. Melihat hal yang demikian empat ssaudara tersebut mencoba untuk mencari jalan keluar dari hal-hal yang tidak di inginkan_perebutan kekuasaan misalnya_.Empat bersaudara, 4 laki-laki dan satu perempuan berusaha untuk tidak tergantung terhadap kerajaan karena saat itu kerajaan berada dalam ekonomi yang lemah. Sultan Mangku Pribumi, begitulah nama salah satu dari saudara yang paling tua. Putri candi merupakan satu-satunya saudara perempuannya. Mereka meminta izin kepada sang ibunda sekiranya di izinkan untuk merantau dan ibunda memberi izin dengan syarat mereka harus berjanji akan kembali setelah setahun bersama-sama (mereka tak boleh kembali tanpa saudara mereka) jika mereka telah menemukan apa yang mereka inginkan.
Mereka bersama rombongan pergi merantau menyusuri aliran sungai. Mereka tak banyak membawa bekal. Karena jika mereka membawa bekal, mereka akan dianggap lebih rendah oleh orang-orang kerajaan. Mereka membawa binatang kesayangan mereka masing-masing dan sepasang pakaian untuk ganti. Sultan Mangku Pribumi sendiri membawa itik kesayangannya.
Di dalam perjalanan terjadi sebuah debat kecil, dimana mereka ingin menemukan suatu daerah untuk mereka sendiri. Mereka mencoba mencari ide tentang itu. Lalu sultan Mangku Pribumi, selaku saudara yang tertua mencoba menengahi.
“Bagaimana kalau kita menggunakan binatang kesayangan kita untuk menunjukkan dimana wilayah kita masing-masing sebenarnya. Jadi, dimanapun binatang itu mendarat disitulah daerah yang memiliki binatang itu.” Ketiga saudara itu terdiam dan berfikir sejenak.
“Hmm, dinda merasa tak ada salahnya dengan ide itu. Ya, dinda setuku.” Akhirnya putri candi yang pertama kali setuju dengan usul kakak sulungnya itu. Melihat reaksi itu, kedua saudara lainnya mengikut saja.
“Akan ku temukan tempat yang seharusnya milikku. Itik ini lah yang akan menunjukannya”. Ya, itik la yang akan menunjukkan bahwa dimanapun itik itu mendarat adalah milik sultan Mangku Pribumi.
Akhirnya mereka berpisah menggunakan kapal masing-masing. Mereka berjanji jika telah setahun dari hari pertama mereka pergi atau berangkat dari kerajaan, mereka akan bertemu pada satu titik dimana mereka mulai berpisah. Namun, sebelum semua rencana itu dijalankan, mereka juga sepakat mereka akan kembali ke tempat itu sebelum malam dan menunjukkan dimana tempat yang telah mereka dapat.

Sultan Mangku Pribumi. Ya, dia telah menemukan tempatnya. Sepertinya Itiknya akan mendarat di pinggiran sungai. Suatu daerah yang subur, sangat cocok untuk bercocok tanam di sana. Mangku Pribumi sangat senag akan hal itu. Namun tiba-tiba itiknya kembali ke dalam sungai. Sultan yang tadinya hendak bersiap-siap turun mengurungkan niatnya. Dengan kecewa, sultan mengikuti itik itu. Dia percaya kalau itiknya itu akan menemukan tempat terbaik untuknya.
Ketika sedang dalam perjalanan, terdapat dalam dua cabang. Lalu di antara cabang sungai itu terdapat cabang-cabang sungai kecil. Sultan panik. Dia merasa dirinya telah tersesat. Saat itu hari mulai malam, tak tahu lagi dia berada dimana setelah melakukan perjalanan berhari-hari dan terpisah dari saudara-saudaranya. Dia memutuskan akan kembali ke tempat semula dimana dia dan saudara-saudaranya berpisah. Namun sultan Mangku Pribumi dan rombongan telah tersesat oleh karena gelapnya malam. Mereka tak tahu dengan aliran mana yang telah mereka lewati sebelumnya.
Di dalam kepanikan itu, si itik mendarat dengan tenang di salah satu sisi sungai yang tak begitu dalam. Pinggiran sungai yang di dominasi oleh tanah liat. Banyak terdapat batu-batu kerikil dan pasir. Sultan memutuskan untuk berhenti di tempat itu. Ya, hal yang sedikit menghilangkan kekecwaannya adalah tanah liat yang mungkin dapat di manfaatkan layaknya tanah liat yang dibudidayakan di lingkungan kerajaan.
Hari semakin malam, tak mungkin lagi untuk melakukan perjalanan. Mangku Pribumi memutuskan membuat tenda untuk beristirahat. Mangku Pribumi dan rombongan membuat penginapan di pinggiran sungai, berharap salah satu dari saudaranya melintas di aliran sungai itu.
“Sebaiknya kita sejenak beristirahat di tempat ini”. Mangku Pribumi bergumam.
“Tapi apakah lebih baik kalau kita kembali saja” jawab salah satu rombongan.
“Tidak! Di sini tempat yang tak begitu buruk. Nanti jika saudaraku melewati sungai ini akan terlihat jelas”. Mangku Pribumi meyakinkan.
Persediaan makanan mulai menipis, namun salah satu saudaranya belum juga melintas. Mangku Pribumi kreatif. Dia berusaha memanfaatkan apapunyang ada di sekitarnya. Dia membuat periuk berasal dari tanak liat. Periuk itu serba guna, dalam artian bisa dipakai untuk memasak nasi taupun makanan lainnya dalam jumlah banyak. Jadi, dia tak perlu membuat banyak alat memasak. Tak hanya itu yang dilakukannya, dia juga membuat kapal atau perahu dengan kayu dan bahan-bahan yang ada di sana (tanpa menggunakan paku atau alat lainnya). Corak perahunya mirip dengan perahunya dan saudara-saudaranya.
Hari demi hari, minggu demi minngu, bahkan bulan demi bulan, Mangku Pribumi semakin betah di daerah itu. Dia membuat rumah bercorak kapal dengan atap daun rumbia. Dia merasa mendapatkan apa yang telah diinginkan selama ini. Ketenangan, kedamaian, kekeluargaan dan kerukunan hidup tanpa harus ada dengki.
Suatu ketika sultan Mangku Pribumi sedang duduk di dekat perahu kesayangannya. Tiba-tiba dia ingat akan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tak boleh terlupakan. Melihat tanggal yang terpahat di perahunya yang melambangkan tanggal saat dia pergi merantau. Satu tahun dia lupa. Satu tahun dia tersesat. Satu tahun dia terpisah dari saudara-saudaranya. Mengapa dia tak berusaha mencarinya? Dia terlalu menkmati hal yang baru ditemuinya. Dia marah. Dia marah sekali terhadap dirinya sendiri. Dia tak dapat mengendalikan emosinya. Die menendang peruik besar yang telah dibuatnya ke dalam sungai. Melihat semua itu rombongan sentak berkumpul. Sultan memutuskan untuk pergi mencari saudaranya tanpa membawa apapun. Termasuk baju yang di bawakan oleh sang ibunda.
“Bunda maafkan aku…”

***
Sejak itulah daerah itu dinamakan Tanah Periuk, yaitu periuk yang terbuat dari tanah liat. Yang ssekarang menjadi Dusun Tanah Periuk, kecamatan Tanah Sepenggal. Baju Sultan Mangku Pribumi juga masih tersimpan di dalam rumah adat. Baju itu mempunyai ukuran pinggang 4 meter. Rumah-rumah yang terdapat di Tanah Periuk juga bercorah seperti perahu dan ter dapat motif-motif di piggirnya. Seperti gambar di bawah ini.







Rumah yang memiliki corak seperti kapal ukiran yang terdapat di bagian rumah







Rumah peninggalan kurang terawatt rumah khusus untuk baju Sultan Mangku Pribumi

2 komentar:

  1. artikel yg sangt menarik, forza tnah periuk

    BalasHapus
  2. upik,,,,kulup...,tengok2 buat crito, cr sumber yg jleh, jgn pakai sumber bajakan

    BalasHapus